Tuesday, July 29, 2008


Heroes and Villains (2008)
BBC
Durasi : @ 60 menit

Sutradara :
Attila The Hun - Gareth Edwards
Spartacus - Tim Dunn
Shogun - Arif Nurmohamed
Cortes - Andrew Grieve
Richard The Lionheart - Nick Green
Napoleon - Nick Murphy

Pemain :
Attila The Hun - Rory McCann
Spartacus - Anthony Flanagan
Shogun Tokugawa - James Saito
Hernan Cortes - Brian McCardie
Richard The Lionheart - Stephen Waddington
Napoleon - Tom Burke

Tanggal Rilis :
Attila The Hun - 2008
Spartacus - 29 Feb 2008
Shogun - 24 Mar 2008
Cortes - 15 Mar 2008
Richard The Lionheart - 22 Mar 2008
Napoleon - 12 Nov 2007

Rating : 5 (skala 1-5)


Sekali lagi BBC membuat film dokumenter yang bagus. “Heroes and Villains” adalah sebuah rekaman hidup mengenai 6 orang pejuang yang dicatat sejarah atas apa yang mereka lakukan. Ke enam orang tersebut adalah Spartacus dari Romawi, Attila The Hun, Shogun Tokugawa dari Jepang, Hernan Cortes dari Spanyol, Raja Richard dari Inggris, dan yang terakhir adalah Napoleon dari Perancis.

Lewat masing-masing peristiwa, sejarah mencatat mereka sebagai orang yang melakukan sesuatu yang berdampak besar, tidak hanya bagi perseorangan, tetapi juga bagi sebuah bangsa bahkan peradaban.
Sayangnya, walau kita dapat menyaksikan para tokoh tersebut dari berbagai bangsa, bahasa umum yang digunakan adalah bahasa Inggris. Hanya sedikit bahasa non Inggris dalam film ini. Padahal kita tahu bagaimana bangganya orang Jepang dengan bahasa mereka. Juga bagaimana sikap orang Prancis terhadap bahasa mereka. Walau demikian, film ini tetap sangat menarik untuk dinikmati. Apalagi setiap kisahnya memuat petikan kalimat yang dapat membuka wawasan dan cara pandang kita terhadap sesuatu.

Satu hal menarik yang dapat kita tarik dari film ini adalah “Apakah posisi tokoh ini bagi kita. Apakah ia seorang pahlawan (hero) atau malah penjahat (villain)?”
Lewat film ini, pertanyaan itu akan semakin mengambang dan tinggal kita mau berada di posisi yang mana pada saat melihat tindakan mereka.

The Ten (2007)

City Light Pictures
Durasi : 96 menit
Sutradara : David Wain
Pemain :
Paul Rudd (“Night At The Museum” sebagai Don) sebagai Jeff Reigert
Adam Brody (“The OC” sebagai Seth Cohen) sebagai Stephen Montgomery
Winona Ryder sebagai Kelly La Fonda
Ken Marino sebagai Dr. Glenn Richie
Jessica Alba sebagai Liz Ann Blazer

Tanggal Rilis : 19 Januari 2007 di Sundance Film Festival
Rating : 2 (skala 1-5)

Apa jadinya kalau sepuluh Hukum Taurat dijabarkan dalam sepuluh kisah dengan setting saat ini? Film The Ten mencoba mengangkat hal tersebut. Dari posternya saja, kita dapat melihat bahwa film ini bergenre komedi karena memplesetkan lukisan “Penciptaan Awal” Da Vinci . Walau demikian, ia bukan lah komedi untuk anak-anak. MPAA memasukkan film ini ke golongan “R” karena dialog, dan beberapa adegan telanjang, dan penggunaan obat terlarang.

Film pendek pertama adalah mengenai Stephen Montgomery yang lupa membawa parasut sewaktu terjun payung. Hal ini membuatnya tertanam di dalam tanah dan dari sini lah cerita-cerita lain berkembang. Mulai dari perselingkuhan pacarnya sampai dengan bagaimana akhir kisah cinta sang pacar yang cukup mengejutkan. Lalu ada juga cerita mengenai seorang penjaga perpustakaan dan seorang dokter yang sering membuat olok-olok dalam segala hal. Untuk menyelingi kesepuluh cerita tersebut, kehidupan narrator pun menjadi hal tersendiri yang membuat kita terus mau menonton sampai akhir. Satu hal yang perlu dicatat, sang narrator adalah Paul Rudd yang juga menjadi produser film ini. Wajah Paul Rudd mungkin dapat kita ingat dalam serial “Friends” sebagai Mike Hannigan. The Ten adalah film pertama yang ia produseri.

Menonton film ini seperti sedang membaca buku “….for dummies” yang dulu sempat populer. Sebuah hal yang berat dijabarkan dalam berbagai contoh yang ringan. Mungkin karena tema setiap film pendek yang cukup absurd, maka bisa jadi film ini belum tentu bisa diterima banyak pihak. Apakah anda dapat membayangkan bagaimana perintah “hormatilah hari Sabat” diangkat dengan cerita pesta telanjang para suami pada saat istri mereka pergi ke gereja? Atau “hormatilah ayah dan ibumu” diangkat dengan cerita sepasang anak kulit hitam yang lahir dari pasangan kulit putih? Ya, mungkin memang film ini adalah gambaran bagaimana beberapa pihak menganggap sah-sah saja membuat komedi dari sesuatu yang sakral. Satu hal, tampaknya film “The Ten” belum tentu dirilis di Indonesia karena dengan sangat jelas dapat menimbulkan polemik terutama di kalangan Kristen.

Tuesday, June 3, 2008

The Children of Huang Shi

Directed by : Roger Spottiswoode
Starring by :
Jonathan Rhys-Meyers
Radha Mitchell
Chow Yun-Fat
Michelle Yeoh
Guang Li

Rating : 5 (skala 1-5)

Sebuah film yang mengangkat tema tentang "kasih yang tidak mengenai perbedaan". Digambarkan dengan sangat baik lewat arahan Roger Spottiswoode yang juga menyutradarai "Tomorrow Never Dies" serta "Stop! Or My Mom Will Shot".

Menceritakan petualangan George Hogg (Jonathan Rhys-Meyers) seorang jurnalis Amerika yang meliput masuknya Jepang ke Cina di era Perang Dunia 2. Ketika ia hampir dieksekusi oleh Jepang, ia diselamatkan oleh seorang pemimpin perlawanan Cina yang bernama Chen Hansheng (diperankan dengan sangat baik oleh Chow Yun-Fat). Untuk menyelamatkan nyawa sang jurnalis agar dapat memberitakan kepada dunia luar mengenai kekejaman Jepang, maka Chen menyuruh George pergi menjauh dari area konflik. Chen mengirimnya ke sebuah panti asuhan anak-anak korban perang yang dikelola oleh seorang perawat bernama Lee Pearson (Radha Mitchell). Keberadaan George di panti asuhan tersebut pada awalnya tidak ditanggapi dengan baik para penghuni. Perlahan-lahan, dibantu Lee, George mampu merebut hati anak-anak. Sampai suatu ketika peperangan mulai mendekat ke lokasi panti asuhan dan George memutuskan untuk mengungsikan anak-anak itu. Ia meminta bantuan Chen untuk mengawal perjalanan tersebut. Dalam perjalanan itulah banyak hal terungkap mengenai cinta, tanggung jawab, dan keberanian.

Jonathan Rhys-Meyers (kita mungkin mengingatnya dalam Mission Impossible III dan August Rush) dan Radha Mitchell (Silent Hill) bermain sangat bagus. Sementara Chow Yun-Fat dan Michelle Yeoh walau tidak mendapat porsi bermain yang besar, tampak sangat menguasai "panggung". Chow Yun-Fat bermain seperti dalam film "Anna and The King" sementara Michelle Yeoh kembali tampil anggun seperti di "Memoirs of a Geisha". Untuk Yeoh, ini adalah kali kedua ia berperan di bawah arahan sutradara Roger Spottiswoode setelah dalam film "James Bond : Tomorrow Never Dies". Film ini sendiri adalah kolaborasi 3 negara yaitu Cina, Australia, dan Jerman.

Sunday, April 20, 2008

An Empress and The Warriors


An Empress and The Warriors

(Jiang shan mei ren) - 2008


Directed by : Tony Ching Siu Tung

Starring by :

Donnie Yen

Kelly Chen

Leon Lai


Genre : Action Drama


Rating : 3 (skala 1-5)



Pada saat melihat posternya, terlihat kalau film ini cukup serius dengan kostum yang sangat menarik. Setelah menonton selama 30 menit, tampaknya saya harus siap kecewa karena tidak seperti yang dibayangkan.


Film ini menceritakan mengenai seorang putri yang harus meneruskan pemerintahan ayahnya yang meninggal dibunuh pada saat perang. Sang pengkhianat yang merasa bahwa tahta kerajaan harusnya jatuh kepadanya, berencana membunuh sang putri. Ia mengirim pembunuh sewaan untuk melakukan tugas tersebut.

Usaha itu gagal karena sang putri, yang walaupun terluka, dapat diselamatkan oleh seseorang yang tinggal sebatang kara di dalam hutan. Sambil menunggu sembuh, sang putri pun berkenalan lebih jauh dengan penolongnya. Bahkan ia jatuh cinta kepada pemuda tersebut.

Tetapi, negara membutuhkan seorang pemimpin. Dan sang putri pun harus membuat keputusan bagi hidup dan negaranya.


Secara cerita, film ini mungkin tidak terlalu istimewa. Yang membuat ia jatuh, buat saya, adalah beberapa adegan yang saya rasa kurang pas atau tidak masuk akal. Mulai dari adegan penyerangan sang putri di sebuah danau (awalnya ia tampak memandikan seekor kuda. Dari ketinggian kuda, tampak danau tersebut dangkal. Tetapi ketika para pembunuh menceburkan diri ke danau tersebut, maka tiba-tiba danau menjadi dalam). Lalu berlanjut saat pengejaran sang putri di dalam hutan (Bagaimana mungkin kecepatan kuda dapat ditandingi oleh manusia? Lalu perangkap-perangkap yang ada mengingatkan saya pada film-film perang Vietnam).

Yang menyelamatkan film ini tidak lain tidak bukan adalah kostum dan perlengkapan lainnya yang cukup detail.

Walau pun sang sutradara pernah menjadi "action director" pada film "Dororo" (2007), tidak terlalu tampak pengaruhnya pada film ini. Mungkin memang karena unsur percintaannya lebih kental sehingga perkelahian kurang mendapat porsi yang besar. Yang pasti, daripada menonton di bioskop, lebih baik lewat dvd saja. Tapi siap-siap kecewa bagi mereka yang membeli dvd bajakan karena kualitas terjemahannya cukup buruk - baik terjemahan Indonesia atau pun Inggris.

Monday, March 24, 2008

Katyn

Genre : Drama History War

Directed by : Andrzej Wajda
Starring by :
Artur Zmijewski
Maja Ostaszewska
Andrzej Chyra
Danuta Stenka
Jan Englert

Rating : 5 (skala 1-5)

Bagi mereka yang tidak familiar dengan tema Perang Dunia ke 2, nama Katyn tentu sangat asing. Katyn adalah sebuah tempat berupa hutan di daerah Polandia dimana menjadi tempat kuburan massal bagi 20.000 tentara cadangan Polandia (dalam hal ini perwira dan para intelektual) yang dibunuh oleh NKVD Soviet.

Cerita yang diangkat adalah mengenai 4 orang tentara beserta keluarga mereka. Bagaimana keadaan para tentara itu sebelum dibunuh dan bagaimana keadaan keluarga mereka selama menanti janji pemerintah Soviet yang katanya akan membebaskan anggota keluarga mereka.
Alih-alih membebaskan, mereka mendapat kabar resmi dari pemerintah Soviet yang menyatakan bahwa para tentara telah dibunuh oleh Nazi Jerman di Hutan Katyn. Para anggota keluarga tentu tidak mempercayainya karena sepanjang pengetahuan mereka, para tentara itu ditawan oleh pemerintah Soviet. Dengan segala cara pemerintah Soviet yang menguasai Polandia mencoba agar mereka percaya. Di sinilah kita dapat melihat bagaimana keteguhan hati dari para anggota keluarga dan juga resiko yang harus mereka terima dari hal tersebut.

Untuk kualitas dvd, karena yang saya beli bukan original, ada beberapa kekurangan seperti beberapa dialog penting yang tidak diterjemahkan. Serta skip di beberapa adegan. Untuk kualitas gambar sendiri, sudah cukup tajam. Mungkin kalau ada pihak yang mau mendistribusikan dvd originalnya dengan harga terjangkau, cukup layak film ini dibeli. Apalagi kalau ada bonus berupa foto-foto asli atau klip film hitam putih yang dikeluarkan oleh Nazi Jerman. Sangat membantu pemahaman kita mengenai pembunuhan massal ini.

Setelah menonton film ini, satu hal yang teringat oleh saya adalah apa mungkin Indonesia dapat membuat film seperti ini dengan cerita yang diangkat adalah mengenai pengejaran anggota dan simpatisan PKI di gunung-gunung pasca 30 September 1965. Mungkin kalau bisa, film ini bisa jadi mendapat nominasi Oscar karena film Katyn pun demikian. Sayangnya, ia kalah dari The Counterfeiters yang dibuat oleh Austria.

Wednesday, March 12, 2008

3 Iron


Directed by : Kim Ki-duk

Starring by : Lee Seung Yeon
Jae Hae
Rating : 5 (skala 1-5)

Sebuah film yang dapat merubah paradigma kita tentang mencintai. Apabila kita sering melihat film percintaan yang mengumbar banyak kata, justru film ini dengan lantangnya berkata bahwa mencintai tidak butuh perkataan. Mencintai adalah tindakan. Dan memang cinta yang dilukiskan dalam film ini bukanlah cinta yang "biasa" serta dapat diurai dengan kata-kata indah, melainkan sebuah cinta yang dapat dikatakan tidak lazim dan memang lebih baik tidak dilukiskan secara verbal.
Film ini bercerita mengenai seorang pemuda yang dengan keahliannya dapat masuk ke rumah yang ditinggal penghuninya berlibur. Satu rumah berbeda setiap malam. Disana yang ia lakukan hanya "menumpang" tidur dan, uniknya, ia pun memperbaiki barang-barang rusak kepunyaan pemilik rumah.
Satu saat ia masuk ke dalam rumah seorang kaya yang tanpa ia sadari, istri pemilik rumah ternyata berada di rumah tersebut. Sang istri, yang baru saja mengalami kekerasan fisik dr sang suami, hanya dapat mengamati sang pemuda dari kejauhan. Sampai suatu ketika sang pemuda menyadari keberadaan sang istri dan dari sini lah mereka memulai interaksi non verbalnya. Sang suami yang ketika pulang mengetahui ada orang lain dalam rumahnya kontan menjadi marah. Ia mengusir sang pemuda dan tanpa disangka istrinya pun ikut pergi. Ini menimbulkan kemarahan luar biasa baginya. Ia pun mencari cara untuk dapat membalas dendam kepada sang pemuda.
Di tempat lain, sang pemuda dan sang istri berpetualang mencari rumah kosong yang dapat mereka jadikan tempat bermalam sehari-hari. Dalam petualangan minim dialog tersebut, muncul perasaan cinta antara keduanya. Sayangnya, petualangan mereka harus berakhir di suatu tempat. Polisi menahan sang pemuda karena masuk rumah orang tanpa izin sementara sang istri dikembalikan kepada suaminya karena dianggap korban penculikan. Di penjara sang pemuda bereksperimen terhadap dirinya. Ia berusaha menjadi seseorang yang tidak "terlihat". Dengan kemampuan ini, ia kembali menemui pasangannya dan mereka menemukan kembali cinta yang sempat hilang.

Untuk sebuah film drama romantis, 3 Iron bukanlah film yang mudah untuk ditonton karena dialog yang minim membuat jalan film ini seperti merangkak. Walau demikian, secara konsisten, grafik itu terus menanjak. Kesulitan di rumah kosong yang kedua pasangan itu alami juga menampakan peningkatan. Mulai dari tidak ada kesulitan sampai mereka menemui orang yang meninggal dunia. Uniknya, grafik itu mempunyai 2 puncak. Puncak pertama ketika mereka tertangkap dan puncak kedua, yang paling tinggi, ada di saat terakhir yang juga menjadi "memorable moment" film ini.


PS: Thanks to Bpk Ronny Tjandra dari Jive Production atas filmnya.

Once


Directed by : John Carney

Starring by : Glen Hansard
Marketa Irglova

Rating : 5 (skala 1-5)
Satu lagi film musikal yang membuat saya ingin menontonnya kembali. Cerita yang diangkat sangat sederhana tetapi memiliki pesan tersirat yang sangat dalam. Walau sampai akhir kita tidak mengetahui nama masing-masng tokoh utama, kita tetap dapat menikmati cerita dan terlebih lagu-lagu indah yang tersaji secara akustik.

Menceritakan pertemuan dua orang berbeda gender yang disatukan lewat musik dan lirik. Sang pria (Glen Hansard) mempunyai dua pekerjaan. Pekerjaan pertama adalah membantu ayahnya di toko reparasi vacuum cleaner sedangkan pekerjaan keduanya adalah pemusik jalanan. Sang wanita (Marketa Irglova) adalah imiran asal Ceko yang bekerja serabutan di siang hari dan merawat anak dan ibunya di malam hari.
Pertemua keduanya terjadi di jalanan kota Dublin ketika Hansard sedang "mengamen". Irglova yang tertarik mendengar lagu dan lirik yang dimainkan akhirnya membuka percakapan. Percakapan berlanjut dengan hal lainnya dan terungkaplah bahwa mereka memiliki persamaan yaitu sama-sama menuangkan perasaan lewat musik dan juga ternyata mereka sama-sama ditinggal oleh sang kekasih. Irglova lalu mendorong Hansard untuk membuat sebuah album demo musik yang bisa dipergunakan untuk mendapat kontrak dengan perusahaan rekaman di London. Sekaligus menyusul kekasihnya yang juga tinggal di kota yang sama.
Perjalanan membuat demo musik itu ternyata menyadarkan mereka akan arti cinta yang telah mereka miliki sekaligus membuka kisah cinta baru antar mereka yang tidak akan pernah berlanjut.
Untuk sebuah film dengan durasi 109 menit, apa yang disajikan sudah lebih dari cukup. Ia tidak membawa penonton memutar-mutar dalam konflik cinta tak kesampaian yang menghabiskan waktu tetapi mengalir begitu saja dan benar-benar membuat waktu yang sempit menjadi indah tanpa perlu ada konflik berlebih.
Lagu-lagu yang ada sangat berkesan apalagi disajikan dengan teknik akustik sehingga sangat membawa suasana. Dan tentunya tidak berlebihan apabila salah satu lagunya mendapat Oscar untuk kategori lagu terbaik dalam sebuah film.